#AprilProduktifDay7: Puja Manusia untuk Dewi di Atas Sana

bismillahirrohmanirrohim

Pernahkah kalian merasa seperti Rahwana? Rahwana sang Maharaja Ngalengkadiraja, rela mengabaikan tahtanya, rela berperang melawan bala wanara, bahkan rela menukar nyawanya demi seorang gadis yang dicintai segenap jiwa raga, Shinta. Namun, Shinta lebih memilih Rama, seorang ksatria yang kebetulan lebih dahulu meminangnya.

Mbah Rahwana adalah pelopor dari gerakan "fall in love with people we can't have".
Saya turut berpartisipasi dalam gerakan tersebut.

Mbah Rahwana adalah saya, hanya saja saya dari kalangan jelata. Dia yang saya damba adalah seorang dewi, itu menurut pandangan saya yang sudah kabur karena penyakit yang kata orang disebut "cinta".

Betapa lancangnya kan seorang jelata mencoba bersanding dengan dewi?

Untuk merangkak di bumi saja saya masih kepayahan, malah mencoba menggapai langit, hanya untuk sebuah keegoisan dari rasa yang tak karuan.

Layaknya seorang dewi yang baik hati, rasa yang saya ajukan disambut dengan ramah dan penuh kasih.
Tapi saya salah, kasihnya bukan milik perseorangan, ramahnya tertuju ke semua penjuru.
Saya bukan orang yang spesial di matanya.

Seorang jelata seperti saya, rela melakukan apapun hanya untuk berjumpa dengan sang dewi.
110 KM rela saya tempuh, kuyup dan dingin saya tak peduli.
Jam 10 malam menerobos hutan jati melewati jembatan angker pun tak masalah.
Tak tidur semalaman demi menemani sepinya, tak apa.
Mencari guyonan receh asal dia bisa tetap tertawa.
Tapi semua itu dianggapnya hanyalah usaha WAJAR dari seorang TEMAN.

Di satu sisi ada kecewa atas rasa dan usaha yang terabaikan.
Di lain sisi ada rasa yang terlalu besar, yang sudah tak bisa dikendalikan, merusak logika si jelata ini.
Apa hak seorang jelata seperti saya menuntut kepada seorang dewi yang segenap perasaan saya ada padanya?

Bagian pahitnya adalah cintanya sudah milik yang lain, dan itu bukan saya.
Bagian bodohnya adalah saya masih tetap mendambanya.
Bagian sakitnya adalah saya tetap bertahan atas ketidakpastian ini.
Tak apa, karena dia seorang dewi.

Jika ini salah, kenapa rasa ini tertanam begitu kuat?
Jika ini benar, kenapa rasa ini datang terlambat?

Ada beberapa hal di dunia ini yang lebih baik tidak dipaksakan, dan lebih baik merelakan.

"MencinTAI dengan tidak mencinTAI"
Mungkin itu kata yang tepat.

Atas segenap rasa yang sudah meluap
Atas segenap usaha yang sudah dilakukan
Terucap doa:
"Andaikan aku mengenalmu lebih dulu, sebelum dia mengenalmu"

Tapi pengandaian memang hanya tertuju untuk hal hal yang sulit terwujud.


___________________________

epilog:
demikian kisah ruwet saya yang tambah ruwet karena hiperbolanya.
pernahkah kalian merasakannya? atau mungkin cuma saya? hehe



Komentar

Postingan populer dari blog ini

#AprilProduktifDay11: NyamNyamNyam

#AprilProduktifDay14: Pesan Untuk Kebencian

#AprilProduktifDay12: Terimakasih!