#AprilProduktifDay11: NyamNyamNyam
bismillahirrohmanirrohim
Sebagai makhluk omnivora, saya tak punya kriteria khusus soal makanan. Saya tak punya makanan favorit, atau bisa dibilang semua makanan adalah favorit saya. Makanan yang saya suka adalah makanan yang enak, porsinya banyak, ada wujudnya di hadapan saya, bisa dimakan, kalau bisa bareng teman teman dan yang paling penting dalam kondisi lapar. Lebih enak lagi kalau gratis atau dibayarin, wkkk.
Ketika ada orang bertanya soal rekomendasi makanan, saya galau, karena saya anggap semua makanan enak. Atau ketika ada teman yang bertanya "mau makan apa?", lalu saya hanya bisa menjawab "terserah". Bukan karena saya tidak punya pendirian, tapi karena saya doyan semua makanan, bahkan yang berupa seperti bukan makanan begitu sudah kena lidah, kalau enak atau sudah terbiasa, pasti doyan juga.
Seperti daun muda pohon damar. Saat hiking di Baturaden, teman saya memberitahu kalau daun muda dari pohon damar bisa dimakan, karena di lokasi tersebut banyak pohon damar. Awalnya saya ragu, begitu saya coba satu, rasanya masam seperti mangga yang belum matang, teksturnya seperti salak tapi dalam bentuk daun, agak renyah, sepat ,dan segar menurut saya. Sejak itu, setiap hiking di Baturaden kalau butuh cemilan saya tinggal petik si daun muda ini.
Masih ketika hiking, entah kenapa ketika hiking di hutan, makanan yang kalau kondisi normal terasa biasa saja, begitu sampai di hutan rasanya lebih nikmat. Contohnya adalah biskuit cracker Hatari, biskuit ini mungkin kalau di rumah dibiarkan utuh dalam toples, tapi begitu dibawa sebagai sangu untuk jalan, rasanya menjadi nikmat 10x lipat (hiperbola).
Mungkin karena lelah sehabis berjalan, lelah sehabis membangun barak, pusing mengingat jalur dan dingin hawa pegunungan ditambah bersama teman seperjalanan yang sama lelahnya juga menambah nafsu makan atau lebih tepatnya rasa lapar.
Sesekali kalian perlu berjalan jalan, pergi camping ceria, entah di hutan, atau pegunungan, atau pantai lalu mencoba biskuit Hatari dicelup ke kopi atau teh, pasti rasanya berbeda. Atau kalau versi saya, biskuitnya sekalian saya rendam dengan susu hangat lalu biarkan biskuitnya sampai seperti bubur, menurut saya itu adalah salah satu kenikmatan yang sederhana.
Pernah juga saya iseng menyusahkan diri sendiri, dengan mencoba makan nasi dan garam ala orang "susah" jaman dahulu, dan ternyata enak! Tapi saya dimarahi Ibu saya, karena dikira Ibu saya tidak bersyukur dengan makanan yang sudah ada, wkkk. Sekali lagi, mungkin karena waktu itu saya lapar jadi nasi dan garam saja terasa enak, dan memang kebetulan waktu itu saya belum makan sih, wkkk.
______
Dari daun damar, biskuit direndam dan nasi garam sudah bisa masuk menjadi makanan favorit saya. Walaupun menurut saya enak, rasanya tidak sopan jika saya merekomendasikan kalian makan daun damar atau nasi garam, maka dari itu saya merekomendasikan makanan yang biasa saya makan bersama teman teman di Semarang untuk teman begadang, atau modal apel cemceman yaitu Martabak dan Terang Bulan Spesial Hallanda di Semarang tepatnya di depan patung kuda UNDIP.
Apa yang spesial dari martabak ini dibanding yang lain? Yang spesial adalah saya kenal dengan penjualnya, wkkk, tapi kebiasaan buruk saya adalah lupa nama, sehingga saya sering memanggil beliau "bapake". Satu yang pasti, bapake orang yang ramah, kalau ada yang mengajak ngobrol, beliau dengan senang hati akan ngobrol.
Selain karena saya kenal, bapake juga menjual snack calorie bomb tengah malam yang cukup komplit, ada onde onde, molen dan pukis juga, dan tentunya martabak dan terangbulan (sehat!).
Favorit saya adalah terang bulan cokelat keju. Adonan dari bapake menurut saya lebih tebal dari terangbulan pada umumnya, jika terangbulan lain akan mengisi loyangnya dari 1/2 sampai 3/4 loyang, bapake mengisi full loyangnya dengan adonan. Ini membuat terangbulannya menjadi lebih padat.
Topping yang diberikan juga tidak pelit, taburan cokelat meses yang manis dan parutan keju yang gurih, olesan mentega, berpadu lumer di tengah adonan yang masih panas panasnya ketika baru diangkat dari loyangnya. Harganya untuk seporsi terangbulan cokelat keju adalah 22 ribu rupiah, menurut saya untuk terangbulan dengan topping cokelat keju itu adalah harga yang murah dibanding yang serupa. Sekali lagi, karena kenal, kalau cemilan lain masih ada biasanya kami diberi bonus, entah onde onde, atau pukis, atau molen. Kalau sudah habis, maka kami akan diberi topping ekstra, cokelat yang lebih banyak dan keju yang lebih banyak.
Untuk harga cemilan yang lain bisa kalian cek di aplikasi ojek online, dengan nama restoran "Martabak dan Terangbulan Hallanda" atau bisa dengan datang langsung, harganya sesuai dengan kantong mahasiswa kok.
Ngomong ngomong, saya merasa ada semacam kekuatan magis yang membuat terangbulan ini tidak bisa meninggalkan daerah Semarang, wkkk. Berulang kali saya mencoba membawanya ke Jogja sebagai oleh oleh selalu gagal, entah itu karena sudah habis dimakan teman duluan, atau bapake tutup saat saya berniat membawa terangbulannya ke Jogja, atau hal hal lain.
Mungkin kalau kalian ke Semarang, bisa mencoba terangbulan Hallanda depan patung kuda UNDIP Semarang. Sekalian coba buktikan kalau terangbulannya memang bisa dibawa keluar Semarang.
_______
"Ni'matul dahar amergo luwe"
Riwayat Bangkit Al Omnivor
Komentar
Posting Komentar