#AprilProduktifDay5: Sangkan Following Dumadi


bismillahirrohmanirrohim
Saya terhitung terlambat mengenal media sosial. Seingat saya kisaran tahun 2010 ketika anak lain sudah mempunyai akun media sosial berupa Facebook, sementara saya masih doyan sepedaan keliling kampung, dan jonjang (kejar kejaran). Tahun 2013, saya baru membuka akun Facebook pertama kali, dengan meminjam komputer tabung milik adik sepupu saya yang masih pakai mouse dengan trackball dan tentu dipandu olehnya juga. Waktu itu sedang musim nama nama yang bikin pusing mata karena terdiri dari kombinasi simbol, huruf, angka dan kapital, alias 4LaY, dan saya juga mengikutinya. Hiiiih, mengingat jaman itu saya jadi bergidik ngeri sendiri.

Sebenarnya ada satu media sosial lagi yang saya sempat punya dan sekarang sudah punah, yaitu Yahoo Messenger (YM). Saya sempat membuka akun YM untuk tugas mata pelajaran Teknologi Informasi Komputer (TIK), tapi entahlah sudah seperti apa nasib akun saya sekarang, saya juga sudah lupa passwordnya, mungkin sudah banyak sarang laba-laba.

Di tahun 2014, kalau tidak salah lagi, ketika teman teman saya sudah beralih ke WhatsApp, saya masih setia dengan BlackBerry Messenger. Saya baru membuka akun WhatsApp di tahun 2016 di masa awal masuk kuliah, itupun dengan terpaksa karena setiap materi ospek dan peralatannya selalu dikabarkan lewat WhatsApp, jadi mau tidak mau saya mengikuti mayoritas, saya merasa terdiskriminasi, sialan.

Di tahun 2016 juga saya membuka akun Blogger, lagi lagi karena terpaksa, untuk tugas training ICT (versi Inggris TIK). Begitu training ICT berakhir, akun pun kembali mangkrak. 

Tahun 2017, saya baru membuka akun Instagram, media sosial yang membuat saya gethet sendiri. Dimana keriya'an visual menjadi barang dagangan yang laris, tapi di lain sisi visual tersebut juga menjadi penyegaran bagi mata (IYKWIM).

Kemudian tahun 2018 akhir saya baru membuka akun Twitter, tempat saya mencurahkan bacotan saya sebelum di blog. 

Berhubung saya senang kelayaban, entah motoran entah berjalan entah rebahan, saya ingin berbagi cerita yang saya alami selama perjalanan saya, tetapi masih bingung untuk mulai darimana. Sampai pada bulan Maret 2020, mba Nina mengadakan voting di Instagram soal menulis, saya memilih untuk bergabung. Terimakasih saya ucapkan kepada project #AprilProduktif yang sudah membantu saya aktif lagi di Blogger (untung saya masih ingat passwordnya) dan mengenal berbagai macam gaya tulisan serta mencari gaya tulisan yang cocok bagi saya.

Dulu saya pikir lebih baik tidak usah mengenal media sosial sama sekali, karena media sosial hanyalah sebuah negativitas dalam bersosial di dunia nyata. Di Facebook kita harus mengkonfirmasi orang yang ingin menjadi teman kita, di WhatsApp kita harus menyimpan nomor mereka sebagai pertanda teman, di Instagram dan Twitter kita harus saling mengikuti untuk bisa berteman.
Tapi terlepas dari semua negativitas itu, ada banyak hal positif yang masih bisa kita ambil, tergantung kita mau melihat dari sudut sebelah mana. 

Terlambat mengenal media sosial, membuat saya mengalami fase yang terlambat pula. Ibarat kata bayi yang telat tengkurap dimana bayi lain sudah merangkak, maka akan mempengaruhi fase berikutnya. Saya mengalami fase tersebut, dimana ketika orang lain sudah melewati fase 4LaY, sebagian diri saya masih tertinggal.

Berbagai fase mengenai tahapan bermedia sosial berdasarkan pengalaman pribadi dan sebagian sudah saya lewati.

1. Apa yang saya rasakan, langsung saya bagikan dan semua orang harus mengetahuinya. (alhamdulillah, sudah lewat)

2. Mulai mempersempit lingkaran, tidak semua yang saya rasakan akan saya bagikan, dan hanya sebagian orang yang boleh dan bisa mengetahuinya. (kadang kadang)

3. Tidak ada hal menarik lagi yang perlu dibagikan, semuanya sama saja. (sepertinya saya mulai memasuki fase ini)

4. Menjadi pemirsa dari cerita orang orang (mungkin ini fase yang akan saya alami setelah fase 3)

dan mungkin titik paling final...

5. Media sosial kembali ke fitrahnya lagi, sekedar menjadi alat bantu untuk bersosial, layaknya kentongan saat kumpulan RT atau peluit sewaktu kemah Pramuka atau asap saat kita tersesat.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

#AprilProduktifDay11: NyamNyamNyam

#AprilProduktifDay14: Pesan Untuk Kebencian

#AprilProduktifDay12: Terimakasih!