#AprilProduktifDay21: Horor Lah Pokoknya

bismillahirrohmanirrohim

Desember 2019, saya mendapat tugas untuk mengambil data skripsi ke Jakarta. Saya putuskan untuk bermotor sendiri ke sana, menambah pengalaman sekaligus bisa mampir sana sini, salah satunya Bandung. Demi kelancaran perjalanan tentu saya minta doa restu dan minta sangu ke orangtua, tapi saya tidak bilang kalau saya bermotor dan mampir ke Bandung. Saya pamitnya berangkat naik kereta, langsung ke Jakarta. JANGAN DITIRU!

Dalam perjalanan pulang saya mampir ke kos teman masa SMA di Bandung untuk numpang ngerusuh, Hengki namanya. Saya perlu mengisi ulang tenaga saya jadi saya putuskan untuk menginap semalam sebelum lanjut berkendara esok hari. Kosan Hengki ini sebenarnya ramai, banyak orang yang bisa diajak ngobrol santai, bahkan ada satu temannya yang numpang singgah juga dari Ciwidey dan menginap di kos ini, Reza namanya. Sayangnya, stamina saya bisa dibilang sudah cukup drop, kalau saya paksakan begadang mungkin saya tidak bisa pulang jadi saya putuskan tidur cepat.

Pagi hari, Reza dengan panik membangunkan Hengki.

"A' bangun, lihat motor aing ga?" tanya Reza.
"Tadi malem parkir di bawah kan?" kata Hengki masih setengah sadar.
"Ga ada" kata Reza dengan raut wajah panik.

Ternyata motornya hilang!

Dia kemudian sibuk melihat rekaman kamera pengawas yang ada di kos Hengki, lalu segera mengabari orang terdekatnya dan memposting di media sosial soal berita kehilangan. Setelah kembali ke kamar, saya yang bingung hanya bisa terdiam, akhirnya untuk memecah keheningan saya bertanya dengan bodoh "parkir di sebelah mana?"

Ternyata parkirnya persis di sebelah motor saya!

Mungkin ini tindakan yang tidak terpuji karena bersyukur saat ada orang lain yang kesusahan. Tapi fakta bahwa bukan motor saya yang dicuri harus saya syukuri. Seandainya si maling meleng sedikit saja mungkin motor saya yang jadi sasaran. Dan saya tidak bisa membayangkan kacaunya saya. Bagaimana saya menjelaskan ke orang rumah. Melaporkan motor yang hilang padahal bilangnya pergi naik kereta dan lokasinya di Bandung padahal pamitnya ke Jakarta. Pusing kan?

Saya yang nyaris jadi korban pencurian saja sudah lemas, apalagi Reza yang jadi korban sesungguhnya. Tergambar dari raut wajahnya, biarpun dia masih cengar cengir seakan masih belum percaya, perlahan dia terdiam lalu matanya terlihat berkaca-kaca.

Saya hanya terdiam. Tidak berani berkata apapun. Di satu sisi saya ikut bersimpati, di lain sisi saya juga ikut merasakan kengerian hampir jadi korban pencurian.

Kabar terbaru yang saya dapatkan, katanya motornya belum ketemu sampai tulisan ini ditulis, menambah kengerian saya sendiri.

Betapa menakutkan berurusan dengan orang yang masih hidup daripada mereka yang sudah meninggal.

Komentar

  1. Benar juga bahwa horor tidak harus selalu dengan yang sudah meninggal yaa, terimakasih sudah berbagi

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

#AprilProduktifDay11: NyamNyamNyam

#AprilProduktifDay14: Pesan Untuk Kebencian

#AprilProduktifDay12: Terimakasih!