#AprilProduktifDay20: S.U.C.C.E.S.S
bismillahirrohmanirrohim
Foto di atas di ambil setelah pentas seni dalam rangka perayaan ulang tahun sekolah bulan Desember 2015. Saat itu kami kelas XII, alias 12 alias 3 SMA atau bisa dibilang itu adalah pentas seni terakhir kami sebagai anak SMA, sebelum kami berpencar melanjutkan perjalanan mengejar mimpi masing masing. Kami tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
Dari awal terbentuk kami termasuk kelas yang slengean, nanggung dan bukan kelas idaman. Berjumlah total 38 individu, dengan karakteristik yang beraneka ragam, yang mempengaruhi gambaran kelas di mata orang lain dan guru guru. Pintar tidak, tapi tidak mau dibilang bodoh, bandel iya, berandal belum, tidak terlalu solid juga, pokoknya nanggung lah, yang pintar ada (bukan saya), yang kapasitas otak menengah ke bawah juga ada (ini saya). Ikut lomba classmeeting pun lebih sering kalah daripada menang, kami terlalu menyepelekan itu semua.
Sepertinya kami terlalu menjiwai nama kelas kami pada waktu itu, yaitu ELECTRON. Saya lupa singkatannya apa yang jelas berdasarkan mata pelajaran fisika, elektron adalah ion negatif dari suatu atom. Hasilnya kelakuan kami memang banyak negatifnya.
Di penghujung masa SMA lebih tepatnya sebelum pentas seni dan classmeeting dalam rangka perayaan ulangtahun sekolah, demi mendapatkan aura positif kami melakukan rebranding dengan mengganti nama kelas menjadi SUCCESS, saya lupa singkatannya apa tapi pengertian sukses sepertinya sudah cukup membawa aura positif bagi kelas kami.
Di momen pensi yang terakhir ini kami memutuskan untuk mementaskan seni tari, gabungan tari modern dan tari tradisional. Kami putuskan untuk menyingkirkan sejenak ego kami.
Berlatih sampai sore, hanya untuk sekedar 3 besar, supaya ada cerita saat tua nanti bahwa kelas kami semasa SMA pernah punya suatu pencapaian.
Dari yang tidak punya kostum untuk tari, kami mencari sampai kota sebelah, bahkan ada beberapa yang terpaksa buat sendiri. Yang bisa dandan ditugasi mendandani satu kelas dengan riasan ala kadarnya. Yang punya selera musik yang mendukung, mendapat tugas sebagai arranger. Yang mendapat nilai tinggi di mata pelajaran seni tari, mendapat tugas sebagai koreografer. Yang mentok ingin berkontribusi, tapi tidak tahu mau bantu apa, ya modal manut.
Tidak mudah menyatukan isi kepala 38 individu, tapi pada akhirnya ego kami perlahan melunak juga. Singkat cerita pentas sukses, dan yang tidak disangka, kami mendapat juara 1 dan diundang sebagai salah satu bintang tamu di malam puncak perayaan ulang tahun sekolah. Mungkin ini efek setelah berganti nama jadi SUCCESS.
Untuk pentas di malam puncak kami tidak kalah grogi, tapi setidaknya kami sudah punya modal. Persiapan lebih dimatangkan. Salah satu teman mengundang penata rias yang lebih handal dan mumpuni, musik lebih dirapihkan, kostum diperbagus, dan gerakan ditambah sedikit improvisasi sebagai kejutan dan variasi.
Sebelum pentas kami puas puaskan berfoto ria, bersama wali kelas, bersama teman teman yang lain. Pokoknya 2 kartu memori di 2 kamera kita isi sampai penuh. Karena pasti ketika acara dimulai kami tidak bisa banyak berkutik karena harus bersiap untuk pentas. Alhamdulillah, penampilan berjalan lancar. Selesai pentas kami berpelukan merayakan keberhasilan kami sendiri. Teman teman putri kebanyakan menangis haru, teman teman putra sok kuat.
Benar saja, kami tidak sempat keluyuran menikmati kuliner pesta kebun yang diadakan sebagai konsep perayaan ulang tahun. Alhamdulillah lagi, wali kelas dan beberapa guru kami sudah membooking beberapa stand khusus untuk kami dan bintang tamu yang lain. Setelah tampil kami makan makan di stand yang sudah di booking oleh wali kelas kami, lalu kami bermain kembang api, kami tidak ingin melewatkan momen ini, bahkan saya sudah berkelakuan seperti anak kecil yang loncat dan berlarian tidak jelas karena euforia.
Pengalaman yang berharga di penghujung masa SMA sebelum Ujian Nasional. Saking berharganya, kadang di grup Whatsapp akan ada yang membagikan foto lawas ketika berlatih untuk persiapan pentas tersebut. Ada beberapa yang masih terharu, ada yang sudah lebih tegar.
Kabar buruknya, beberapa dari kami sudah terperangkap kesibukan realita yang sesungguhnya (dilihat dari sudut pandang orang orang yang super selow).
Kabar baiknya, komunikasi kami masih berjalan, buka bersama di bulan Ramadhan, liburan bersama ketika libur semester bahkan di tengah anjuran physical distancing kami tetap nongkrong online melalui discord, ngobrol ngalor ngidul sampai subuh.
Mereka adalah salah satu alasan saya bisa bersyukur dan menikmati masa SMA.
Sehat sehat semuanya ya.
Komentar
Posting Komentar