#AprilProduktifDay6: Mbuh Lah
bismillahirrohmanirrohim
"bagaikan langit (teeeet)
di sore hari (teeeet)
berwarna biru (teeeet)
sebiru hatiku (teeeet)"
Sebut saja TikTok adalah media sosial yang sedang trend masa sekarang ini. Aplikasi yang kata media sosial lain disebut "aplikasi goblok", yang awal kedatangannya dicaci, tapi sekarang hampir semua punya aplikasi ini. Sampai sekarang saya tidak tergoda untuk menginstalnya.
Ketika banyak orang bermain game di PS atau warnet dan yang terakhir game mobile seperti PUBG atau Mobile Legends atau Chessrush, saya tetap bermain Tetris, atau dinosaurus di Chrome. Jadi mohon maaf kalau ada yang mengajak ngobrol soal game saya tidak mudeng.
Lalu filter unyu di Instagram, ketika semua orang ramai ramai mencobanya, saya tetap posting sambatan saya, atau sekedar repost cerita orang lain.
Kemudian di Twitter, saat awal geger corona, ramai ramai banyak orang menjadi ahli soal corona, saya tetap membacot sesuka hati saya. Dikit dikit trit, dikit dikit trit, hilih bicit.
Dan yang paling terakhir ketika tulisan ini ditulis adalah lagu Aisyah Istri Rasulullah, saat semua orang mendengarkan lagu tersebut, baik sengaja ataupun tidak disengaja, sampai tulisan ini ditulis saya sama sekali belum pernah mendengarnya.
Entah ini musibah atau berkah, saya tidak tergoda untuk mengikuti hal hal populer seperti itu, bahkan cenderung membencinya. Hal hal populer seperti itu entah kenapa membuat saya pusing, pusing dalam makna denotatif dan konotatif. Tetapi ada satu pepatah yang sepertinya cocok bagi saya:
"Hating popular things doesn't make you more interesting". (Membenci hal hal terkenal tidak membuatmu spesial)
Saya hanya merasa lelah mengikuti arus, bukan berarti saya adalah sosok heroik yang berani melawan arus, tidak. Saya lebih memilih minggir lalu mĂȘntas kemudian handukan dan ganti wahana.
Mungkin itu yang membuat saya berbeda.
Ketika orang lain antusias membahas skripsi, saya malah ongap angop lalu perlahan ndlosor.
Ketika orang lain sudah punya gambaran akan jadi apa mereka 10 tahun ke depan, saya sibuk memikirkan rute kelayaban berikutnya mau kemana lagi.
Ketika orang lain sibuk memikirkan masa depan, saya masih bingung setelah lulus mau jadi apa.
Mungkin itu juga termasuk yang membuat saya berbeda. Mbuh lah.
Niceee! Sepakat siih, saya rasa meski ngga peduli arus yang sedang fenomenal juga ngga membuat kita lantas tidak baik baik saja hehe enjoy saja pokoknyaa✌
BalasHapusSetuju bangeeeet. Mungkin diantara kita banyak yg sama dengan Bangkit, mbuh lah, tapi tidak mau mengakui hal itu wkwk
BalasHapus