#AprilProduktifDay4: Duduk
bismillahirrohmanirrohim
Saya sedang malas berpikir untuk mencari memori cerita lucu karena masih getun 2 hari kemarin, sudah nulis panjang lebar, aplikasi force closed dan ternyata tidak tersimpan, jadi saya akan ceritakan cerita yang paling gampang saya ingat saja. #sambat
Mari saya ajak kalian berkenalan dengan guyonan keluarga besar saya setiap kumpul lebaran. Guyonan yang awet lucunya padahal sudah diceritakan berulangkali setiap kumpul keluarga.
Cerita bermula saat Mbah saya mau panen kencur, latar waktunya entah kapan, yang jelas sudah lama. Mbah lalu mengajak anaknya kakaknya bapak saya (bingung?), namanya Upi, kalau bingung, panggil saja dia mba Upi. Mba Upi ini tumbuh dan besar di Majenang yang bahasanya didominasi bahasa Sunda, jadi dia kurang paham beberapa kosakata bahasa ngapak Banyumasan.
Mbah mengajak mba Upi untuk panen kencur di kebon.
Mbah: "kueh Pi, kencure didhudhuki" (itu Pi, kencurnya didhudhuki)
Mba Upi: "nggih mbah" (ya mbah)
lalu mba Upi duduk di atas pohon kencur.
Mbah: "deneng njagong?" (kok duduk)
Mba Upi: "lha jere kon diduduki" (lha katanya suruh diduduki)
Mbah: "ualah, didhudhuki kueh dikedhuk, udu dijagongi" (ualah, didhudhuki itu digali, bukan di-duduk-i)
Mbah dan mba Upi tertawa.
Kemudian cerita ini menjadi cerita legendaris yang diceritakan turun-temurun, ke semua anak mbah, ke cucunya mbah, termasuk ke anak mba Upi sendiri, dan menjadi cerita wajib ketika acara silaturahmi keluarga besar, setiap tahun. Pokoknya setiap lihat mba Upi, teringat cerita tersebut, dan pasti akan ada yang bercerita.
Hahaha nggak ada guyonan baru po kit di keluarga besarmu? Misalnya tentang kamu. 😂
BalasHapus