#AprilProduktifDay2: Nrimo ing Pandemik
bismillahirrohmanirrohim
Saya tidak akan membahas corona dari sudut pandang medis, atau politik, karena saya bukan ahli di bidang tersebut.
Tapi yang saya bisa hanya ngrasani si corona ini dari sudut pandang kemanusiaan, karena alhamdulillah saya masih berwujud manusia. Salah satunya melalui sambatan. Sebuah kata kata mutiara yang agak ngawur, terucap dari teman saya: "Hidup hanya sekali, jangan sampai melewatkan kesempatan asiknya sambat"
Di suatu malam setelah muncul himbauan untuk #dirumahaja, saya sudah masak nasi, tapi ingin yang manis manis, tapi butuh lauk untuk makan juga, SATE sepertinya enak! Sambel kacang, kecap tambah cabe 2, cocok lah. Tapi mager keluar, tapi laper, tapi mager, tapi pengin sate, tapi ga boleh keluar juga, tapi pengin sate! Kurang lebih seperti itu pergolakan batin yang sebenarnya tidak bermutu.
.
cring...cring...cring...
.
Pucuk dicinta abang sate pun tiba. Biasanya cinta bertepuk sebelah tangan loh, kalau sedang ingin sate tapi males keluar, ditunggu namun tak kunjung datang, atau si abang muter sampai 2 kali tapi sedang tak ingin sate.
Saya pesan 15 tusuk, sekalian buat sarapan besok, sambil menunggu si abang bakar sate, saya basa-basi ngobrol, "Rame bang?"
"Sepi bang" jawab si abang yang saya gatau namanya, padahal langganan.
"Wah berarti dampak corona benar benar hebat ya bang?" tanya saya.
"Ya beginilah bang" jawabnya.
"Apa jangan jangan karena pada saking takutnya keluar ya bang? Apa karena pada mudik ya?" tanya saya lagi.
"Ya mungkin itu bisa juga" jawabnya.
"Orang orang aneh ya, padahal kan ya kalo cuma beli sate ya ga harus takut lah ya, kalo takut tertular ya tinggal cucitangan ya, terus bukannya ga boleh mudik ya, tapi kok malah pada mudik?!" saya mulai ngegas.
"Ya begitulah bang, emang lagi begini, mau gimana lagi" si abang masih kalem. "Pake cabe ya bang tadi?"
"Iya", ternyata pesanan saya sudah jadi.
"Ini bang" menyodorkan pesanan saya.
"Makasih bang," sambil memberi uang "sehat sehat ya bang."
"Ya bang sama sama" balasnya.
Se-legowo itu.
Beberapa malam kemudian, entah kenapa mulut saya agak kecut, ingin yang manis tapi cemilan, tapi mengenyangkan, TERANG BULAN! COKLAT KEJU! Sepertinya enak! Manis coklat yang lumer, gurih keju, hangat hangat, cuaca sehabis hujan.
Saya berangkat ke terangbulan langganan, Pak Jo namanya, tahu dari plang di gerobak nya.
Sambil menunggu pesanan, saya mencoba basa-basi, template nya sama seperti di atas, tapi kali ini Pak Jo lebih aktif dia lebih banyak curhat, mungkin lebih tepatnya sambat, soal sepinya pesanan, hujan saja cukup membuat dia sepi pesanan apalagi ditambah corona. Tapi tetap, di akhir sambatannya terucap "tapi memang kondisinya begini, mau gimana lagi".
Di handphone, chat dari teman teman gojek di grup gojek, rata rata berisi sambatan soal sepinya orderan, pemasukan yang makin berkurang tapi pengeluaran tetap jalan. Sekali lagi, mereka berkompromi dengan diri sendiri dengan mengatakan "memang sedang musimnya seperti ini, mau gimana lagi"
Saya yang mendengar dan menyaksikan sambatan mereka cuma bisa manggut manggut mendengarkan saja. Mungkin dengan saya mendengarkan sambatan mereka, bisa memberi sedikit ketenangan batin, walaupun cuma 0,00001%. Sambatan mereka juga tidak bisa merubah kondisi orderan menjadi ramai, tapi itu adalah jeritan mereka yang tidak bisa mengikuti gerakan #dirumahaja.
Bersyukurlah kita yang bisa rebahan dengan nyaman tanpa harus pusing soal pemasukan, bukan bermaksud bersyukur di atas penderitaan orang lain, tapi setidaknya itu langkah yang bisa kita lakukan untuk sementara, kalau bisa melakukan lebih mungkin bisa dengan membeli dagangan mereka atau menggunakan jasa mereka yang tetap bekerja di saat seperti ini.
Satu yang masih bisa berada dalam kendali kita adalah usaha kita semaksimal mungkin, tapi keadaan yang terjadi di luar kendali kita. Setelah semua usaha yang kita lakukan, tapi keadaan tetap tidak sesuai ekspektasi kita, falsafah jawa "nrimo ing pandum" mampu sedikit menentramkan hati, atau untuk konteks sekarang "nrimo ing pandemik".
Hidup tanpa sambat-an bagaikan nasi kucing tanpa sambel teri~
BalasHapusHaha, nasi kucing lagi ^-
HapusSetelah baca sampai selesai, rasanya ingin tepuk tangan dari sini!
BalasHapuskeren mas, inspiresyen banget hihi
BalasHapus