Ngelayab Akhir Tahun 2020



bismillahirrohmanirrohim

Setelah Januari 2020 saya berkunjung ke rumah Mas Faisal di Kediri dan mendapatkan banyak cerita. Alhamdulillah, di akhir tahun yang menguji keimanan, saya diberi kesempatan untuk berkunjung ke rumah Mas Hadid di Pemalang.

Perjalanan yang sebenarnya sudah saya rencanakan sejak pertengahan tahun tepatnya ketika lebaran idul fitri 2020, sekalian halal bihalal mumpung orangnya sedang di rumah dan saya juga di rumah di Banyumas. Sekedar informasi jarak Banyumas-Pemalang hanya berkisar 2 jam, memutari lereng Gunung Slamet. Saya sudah meminta Mas Hadid untuk share lokasi rumahnya, tapi karena kebiasaan saya yang sering menunda-nunda akhirnya rencana tersebut gagal sampai Mas Hadid dan saya juga sudah kembali ke Jogja. Akhirnya kami malah bertemu di Jogja lagi.

Sedang asik bercerita soal progres masing masing, apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh Mas Hadid yang sudah lulus dan apa yang akan saya lakukan oleh saya yang masih belum lulus, Mas Hadid bercerita kalau dia akan mudik ke rumah untuk bersiap siap merantau lagi. Ya istilahnya dia pamitan dulu ke orangtuanya sekaligus mengangkut barang barangnya yang masih tersisa di Jogja. Karena saya masih luang alias nganggur maka saya minta ke Mas Hadid untuk ikut ke rumahnya dengan kedok membantunya pindahan. Alhamdulillah Mas Hadid mengijinkan.

Saya pun sudah merencanakan rute yang epik untuk riding di akhir tahun 2020, dimulai dari Jogja kemudian ngintil Mas Hadid ke Pemalang, mudik ke rumah di Banyumas untuk refill logistik, lalu lanjut ke Semarang, baru kembali ke Jogja. Tapi manusia memang hanya bisa berencana, apalagi rencana yang direncanakan manusia macam saya yang sering berujung kegagalan.

"No plan is my best plan"

Benar saja, rencana awal Mas Hadid yang berniat mudik ketika pemilu, sekalian dia mau nyoblos di rumahnya, tapi karena beberapa alasan akhirnya rencana diundur. Sampai pada 13 Desember, Mas Hadid bertanya lagi apa masih mau berkunjung ke rumahnya, saya menjawab mantap "GAS!"

Bulan Desember adalah puncaknya musim hujan, tantangan terbesar orang yang bepergian naik motor adalah cuaca yang buruk, jadi semua barang yang kami bawa malam itu kami lapisi kresek. Apalagi barang bawaan kami cukup banyak, sampai kami berdua harus naik motor sendiri sendiri.

Tanggal 13 malam bersiap siap, besoknya tanggal 14 pagi agak siang kami langsung berangkat. Benar saja, belum setengah jalan, awal masuk Magelang kami bertemu hujan deras, untunglah semua barang sudah dilapisi plastik. Masuk kota Magelang jalanan kering tanpa ada gerimis, kami merasa seperti orang bodoh, memakai jas hujan di jalanan yang kering. Kami melepas jas hujan lalu lanjut jalan sampai di perbatasan Temanggung kami kembali diguyur hujan, kemudian di kota Temanggung jalanan kembali kering, "sialan! semesta bisa sebercanda ini ternyata" gumam saya. Keluar Temanggung kami diguyur hujan deras lagi, saya mbatin, "Kalau di depan terang saya ga akan lepas jas hujan saya, dah lah males", ternyata setelah Temanggung kami diguyur hujan terus sampai Pekalongan. Awal masuk Pemalang pun kami diguyur hujan lagi.

Beberapa kali kami menemui jalan yang tergenang banjir dan truk yang terguling, jarak pandang yang berkurang drastis dan kondisi jalanan yang tertutup genangan air membuat kami mengurangi kecepatan, target awal kami untuk sampai di Pemalang sebelum maghrib pun molor. Ingin rasanya mampir ke warung, pesan kopi panas dan udud sejenak sambil menunggu hujan agak reda, tapi karena jadwal yang mepet, boro boro mampir ke warung dan bersantai, saya yang biasanya menyempatkan untuk mengambil dokumentasi saja tidak sempat.

UTAMAKAN KESELAMATAN! KALO HUJAN TUH MINGGIR, DIPAKE JAS HUJANNYA! KALO GA BAWA, YA UDAH GA USAH NGEBUT ANJIM! DENGAN KAMU NGEBUT GA MEMBUAT KAMU JADI GA KENA HUJAN!

Mas Hadid diharuskan berangkat lagi untuk merantau pada tanggal 15, kalo saya mah woles. Di rumah Mas Hadid saya dijamu dengan baik, terimakasih keluarga Mas Hadid yang mau menampung saya. Saya juga diajari ilmu beternak walet oleh bapaknya Mas Hadid, saya baru tahu kalau beternak mulai dari tahap merintis sampai bisa dipanen sarangnya total bisa memakan waktu 10-15 tahun. Jadi tahu kan kenapa sarang walet harganya mahal?

Tanggal 15 siang kami harus berangkat lagi, ya terkesan sangat buru buru, bapaknya Mas Hadid sampai bilang, "Harusnya 2 hari apa 3 hari mainnya, kalo cuma sebentar ya ilmunya cuma sedikit."

Di tengah perjalanan kami berpisah, Mas Hadid melanjutkan perjalanan kembali ke Jogja sebelum lanjut ke Kediri untuk merantau lagi, saya melanjutkan ke arah Semarang untuk kembali membantu teman pindahan.

Maaf Mas Hadid, harusnya kamu bisa naik mobil lalu mudik dengan nyaman tanpa kehujanan malah ngikutin ego saya untuk naik motor. Selamat berjuang kembali Mas Hadid, kalau sudah di Inggris kabar kabar, biar saya ada alasan main ke Inggris. Terimakasih untuk keluarga Mas Hadid, sehat sehat ya semua.

Di Semarang saya kembali menjadi tukang usung usung, kontrakan teman yang sering saya tempati di Semarang sudah habis kontraknya, penghuninya pun sudah pada mencar, penghuni baru pun sudah mau datang. Sebagai bentuk balas budi pun saya membantu mereka pindahan dan bersih bersih (walaupun telat karena semuanya sudah rapi, hehe). Saya singgah di Semarang cukup lama, sekalian numpang istirahat. Di Semarang, oleh teman teman saya yang sudah bekerja, saya diajari tips and trick melamar kerja.

Sampai tanggal 18 saya diharuskan ke Solo untuk urusan jual beli, di Solo saya lanjut singgah ke kosan teman, lalu mereka bercerita kalau dalam waktu dekat mereka akan sidang akhir skripsi, yang berarti mereka juga akan meninggalkan Solo. Di Solo, teman saya malah lebih blak blakan dengan menyuruh saya untuk segera lulus.

Sempat terpikir, "Hmmmm, selanjutnya ngerusuh ke rumah siapa lagi ya?", tapi akal sehat saya memprotes, "Yakin masih mau lanjut ngelayab? Yakin masih mau main main terus? Kapan seriusnya?" Perdebatan seperti itu sering terjadi di dalam otak saya. 

Saya memang bukan orang yang gampang terpantik dengan pencapaian orang lain, contohnya banyak teman teman saya yang sudah lulus, tapi saya masih santuy. Tapi akhirnya saya berpikir, memang kelulusan mereka tidak bisa memantik semangat saya, tapi dengan mereka yang sudah lulus, melanjutkan hidup, entah merantau lebih jauh atau kembali ke rumah asal mereka, saya tidak bisa mampir dengan sembarangan lagi ke tempat mereka seperti yang biasa saya lakukan.

Mas Hadid yang lanjut merantau lagi, teman teman kontrakan Semarang yang juga sudah melanjutkan hidup mereka masing masing, dan teman teman yang di Solo yang sebentar lagi lulus membuat saya tersadar dan berpikir, "Mereka sudah melanjutkan hidup mereka, sementara saya masih terjebak di fase yang sama, mungkin ini saatnya saya istirahat dulu, dan kembali ke jalan yang benar dengan menyelesaikan skripsi saya yang mangkrak."

Mereka yang dulu masih bisa haha hihi santai bersama saya, sekarang sudah melanjutkan hidupnya. Sementara saya? Masih haha hihi ga jelas. Lalu saya teringat kata kata Seneca,

"Ketika kita menunda nunda, ingatlah bahwa hidup terus berjalan"

Sial! Benar juga Seneca, 2020 saya tidak dapat progres apa apa, tapi 2020 tetap berlanjut.

Perjalanan akhir tahun 2020 dengan rencana awal menyusuri rute Jogja-Pemalang-Banyumas-Semarang-Jogja malah terwujud dengan rute Jogja-Pemalang-Semarang-Solo. Tapi itu cukup untuk dijadikan kegiatan yang menyenangkan untuk menutup tahun yang penuh kegilaan, seakan  menjadi oase di tengah gurun pasir. Perjalanan tersebut menjadi penyelamat saya dari kegilaan tahun 2020 dan pencerah untuk saya yang sedang males malesan. Tahun 2020 bukan tahun yang mudah, di tahun 2020 beberapa kali saya ditampar oleh keadaan yang membuat otak saya sedikit bangun, "Saya tidak bisa terus begini!" dan banyak pelajaran lain yang saya dapatkan.

Jadi, pelajaran apa yang kamu dapat di 2020?

Komentar

  1. Thanks Bangkit untuk ceritanya. Sangat menghibur. Ditunggu kabar baiknya! ;)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

#AprilProduktifDay11: NyamNyamNyam

#AprilProduktifDay14: Pesan Untuk Kebencian

#AprilProduktifDay12: Terimakasih!