LAPORAN PERJALANAN SOLO 17 DESEMBER 2016
Pada 17 Desember 2016, Aku dan 2 temanku yang
bernama Fathul dan Nadia berencana ke Solo untuk silaturahmi dengan teman masa
SMA yang kuliah di Solo. Kami berangkat menggunakan Kereta Prameks.
Kami kesiangan. Jam 7 aku dan Fathul
bersiap-siap berangkat dari kosku di daerah UIN menuju Stasiun Lempuyangan,
sementara Nadia menunggu di asrama putri UGM di daerah Jalan Kaliurang. Karena hanya
ada 1 motor aku dan Fathul berangkat dulu ke stasiun, kemudian aku menjemput Nadia
di Asrama UGM, sementara Fathul menyiapkan tiket keberangkatan kami.
Kupacu motorku secepatnya agar tak
ketinggalan kereta pada jam 8, namun sial bagi kami. Ketika aku baru sampai di
stasiun, kereta ke Solo baru saja berangkat. Nasib baik Fathul belum membeli
tiket. Akhirnya kami memutuskan untuk naik kereta berikutnya pada jam 9, kami
membeli tiket kemudian sambil menunggu kami sarapan terlebih dulu. Dengan menu
soto khas jawa timuran kami makan dengan lahap. Setelah makan kami masuk ke
stasiun sambil menunggu kereta datang. Singkat cerita kereta datang dan kami
berangkat ke Solo. Kami tiba di Solo sekitar jam 10.
Kami sampai di Stasiun Solo Balapan
kemudian kami menuju halte bus lokal Solo yaitu Batik Solo Trans atau BST
dengan tarif Rp 4500/orang. Jam 11 kami sampai di Universitas Negeri Sebelas
Maret. Kami dijemput teman kami yang bernama Alif. Rasa lapar sudah datang
lagi, tapi sebelum makan kami sholat dulu. Setelah sholat kami menunggu teman
kami yang lain. Karena niat awal kami datang ke Solo adalah untuk silaturahmi. Kami
bertemu 2 teman kami yang lain, yaitu Brilian dan Krisna. Setelah melepas
kangen dengan guyonan dan obrolan kesana kemari kami putuskan untuk makan,
karena kami mengejar waktu untuk pulang sebelum maghrib. Cukup sulit mencari
tempat makan di gerbang belakang UNS karena di sana kebanyakan adalah
fotokopian. Akhirnya kami makan di warung cepat saji. Sebelum kami pulang kami
mengabadikan momen kebersamaan kami sebelum kembali disibukkan dengan kesibukan
masing-masing.
Jam 3 sore kami menuju ke Stasiun Solo
Balapan dengan harapan kami bisa mendapat kereta jam 4 sore. Jam 4 sore kami
sampai di stasiun dan ternyata tiket untuk kereta prameks keberangkatan jam 4
sore sudah habis. Kereta berikutnya sekaligus kereta terakhir berangkat jam 8
malam, kami sempat kebingungan, terlebih lagi Nadia ada acara kampus yang harus
dihadiri. Akhirnya setelah pertimbangan panjang kami putuskan untuk menunggu
kereta berikutnya yaitu jam 8 malam, dan Nadia tidak ikut acara di kampusnya.
Saat
sedang menunggu kereta kami berjumpa lagi dengan teman SMA kami, yaitu Febi,
kali ini tanpa disengaja, kami mengobrol sambil menunggu kereta. Karena
menjelang maghrib Febi memutuskan untuk pulang dan mengambil cemilan untuk
kami. Sambil menunggu, kami mencari masjid untuk sholat maghrib. Kami sholat di
masjid RRI dekat Stasiun Balapan. Setelah sholat maghrib hujan turun dengan
deras disertai petir bahkan sampai menggenang sedalam mata kaki. Baterai
handphone kami semua habis, padahal kami butuh untuk mengabari Febi kalau kami
sedang di luar stasiun. Karena takut Febi menunggu di stasiun dan takut
ketinggalan kereta, kami memutuskan untuk menerobos hujan menuju stasiun,
setelah sampai stasiun dengan kondisi basah kuyup hujan pun reda. Kami sudah
basah kuyup, di stasiun terdapat port charger, kami mengisi baterai HP kami. Setelah
dirasa cukup, kami menanyakan posisi Febi. Ternyata Febi terjebak hujan dan
tidak membawa jas hujan dan memutuskan untuk kembali. Kami yang tadinya
menunggu Febi dengan harapan makan gratis pun meniadi kelaparan dan kedinginan.
Ditambah kami kesulitan mencari ATM untuk menarik uang untuk membeli makanan
karena uang tunai kami sudah habis. Beruntung Fathul masih memiliki uang
jaga-jaga, cukup untuk membeli roti untuk mengganjal perut kami. Alhamdulillah kami
masih kebagian tiket kereta. Sempat terlintas di pikiran kami untuk naik bus
kalau tidak mendapat tiket kereta.
Jam 8 kereta berangkat dari Stasiun Solo
Balapan menuju Yogyakarta. Jam 9 malam kami tiba di Stasiun Lempuyangan. Kami belum
bisa bernafas lega, lagi-lagi kami harus berpacu dengan waktu. Aku harus
mengantar Nadia ke asramanya sebelum asramanya tutup karena ada jam malam,
yaitu jam 10. Dalam pakaian yang basah kuyup kupacu kendaraanku. Setelah aku
mengantar Nadia, aku kembali menjemput Fathul di stasiun. Setelah itu, aku dan Fathul
kembali ke kosku.
Keesokan harinya Fathul kembali ke
Kediri untuk kembali ke pondok. Benar-benar pengalaman yang sangat mengesankan.
Memberi pelajaran bahwa waktu benar-benar berharga.



Komentar
Posting Komentar